
Figur Alternatif Muncul, Muhammad Nurul Haq Siap Benahi Sepak Bola Sulteng
PALU – Bursa pemilihan Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sulawesi Tengah semakin menarik perhatian. Sejumlah figur mulai bermunculan dan menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam membenahi sepak bola daerah, Salah satunya adalah Muhammad Nurul Haq.

Muhammad Nurul Haq atau yang akrab disapa Mamat secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk maju dalam pemilihan Ketua Asprov PSSI Sulawesi Tengah mendatang. Keputusan tersebut didasari keprihatinannya terhadap kondisi sepak bola Sulawesi Tengah yang dinilai belum mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya maju karena keprihatinan. Sejak saya kecil, sepak bola Sulawesi Tengah begini-begini saja. Terakhir kita benar-benar berjaya itu pada zamannya almarhum Aziz Lamadjido. Saat itu Palu Putra dan Persipal sama-sama berjaya, bermain di Divisi Utama. Saya rindu masa-masa kejayaan itu,” ujar Muhammad Nurul Haq dalam rapat dengar saraba, Selasa (16/12/2025).
Mamat menambahkan, konsep kerja Asprov PSSI Sulawesi Tengah ke depan seharusnya difokuskan pada pembinaan usia dini yang terstruktur dan berkelanjutan. Menurutnya, Asprov cukup menjalankan fungsi pembinaan dasar, sementara tahap lanjutan dapat didistribusikan ke klub-klub sebagai ujung tombak kompetisi dan pengembangan pemain.
“Sederhananya begini, Asprov itu kerjanya mudah. Kita fokus melakukan pembinaan usia dini. Setelah itu, pemain-pemain hasil pembinaan didistribusikan ke klub-klub. Sekarang justru terbalik, tim yang mengikuti Pra-PON diambil dari klub-klub, bukan hasil pembinaan penuh dari PSSI. Ini yang harus dibenahi,” tegas Mamat.
Mamat menegaskan bahwa pembinaan usia dini tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada klub, meskipun hampir setiap klub memiliki sekolah sepak bola (SSB).
“Memang di setiap klub ada sekolah sepak bola atau SSB, tetapi itu berbeda jika yang menggerakkan langsung adalah PSSI. Kalau PSSI yang men-drive pembinaan, maka Pra-PON benar-benar menjadi milik kita. Kita yang melakukan pembinaan, lalu kita yang mendistribusikan pemain ke klub. Pola ini harus kita balik,” tegasnya.
Ia menilai, selama ini pembinaan usia dini terlalu dibebankan kepada klub, sementara tidak semua klub di Sulawesi Tengah memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk menjalankan pembinaan secara berkelanjutan.
“Selama ini pembinaan usia dini kita serahkan ke klub. Padahal, coba kita lihat, klub mana yang benar-benar mapan secara finansial di Sulawesi Tengah? Tidak banyak. Karena itu, Asprov harus berjuang menghadirkan anggaran untuk pembinaan usia dini. Apa pun caranya harus dilakukan kalau kita ingin punya bibit-bibit unggul,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mamat mengingatkan bahwa sepak bola saat ini bersifat terbuka dan kompetitif. Talenta muda daerah bisa dengan mudah direkrut pihak lain jika tidak dibina dan dikelola dengan baik oleh daerahnya sendiri.
“Sepak bola sekarang bebas. Pemain bisa diambil dari mana saja. Coba kita lihat, berapa banyak anak-anak kita yang justru berkembang di luar daerah. Contohnya Witan Sulaeman. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita,” katanya.
Dengan munculnya Muhammad Nurul Haq sebagai figur alternatif, dinamika pemilihan Ketua Asprov PSSI Sulawesi Tengah dipastikan semakin menarik. Hal ini dinilai sebagai sinyal positif bagi iklim demokrasi olahraga di Sulawesi Tengah, sekaligus membuka harapan baru bagi kebangkitan sepak bola daerah.
Pemilihan Ketua Asprov PSSI Sulawesi Tengah diperkirakan akan menjadi momentum penting dalam menentukan arah dan masa depan sepak bola Sulawesi Tengah dalam beberapa tahun ke depan.