
Haul Guru Tua: Momentum Meneguhkan Nilai, Bukan Sekadar Seremonial
Haul Habib Idrus bin Salim Al-Jufri yang digelar kemarin, Rabu, 1 April 2026, kembali berlangsung khidmat di Kota Palu. Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kawasan religi untuk mengenang sosok ulama besar yang telah menanamkan fondasi pendidikan dan dakwah di kawasan timur Indonesia.
Namun, lebih dari sekadar rutinitas tahunan, haul Guru Tua sejatinya menyimpan pesan mendalam yang patut direnungkan bersama. Ini bukan hanya tentang berkumpul, membaca doa, atau mengenang sejarah, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai perjuangan beliau dapat terus hidup di tengah tantangan zaman.

Sebagai pendiri Alkhairaat, Guru Tua telah mewariskan sistem pendidikan berbasis keislaman yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan akhlak. Dalam konteks kekinian, warisan ini menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang kerap menggerus nilai-nilai moral.
Haul ini seharusnya menjadi titik refleksi kolektif. Apakah semangat dakwah dan pendidikan yang beliau tanamkan masih kita rawat dengan baik? Atau justru hanya menjadi simbol yang diperingati tanpa implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari?
Di tengah kondisi sosial yang semakin kompleks, tantangan terhadap generasi muda tidak lagi sederhana. Perkembangan teknologi, pergeseran budaya, hingga krisis keteladanan menuntut hadirnya figur-figur yang mampu menjadi penerus nilai-nilai Guru Tua.
Di sinilah pentingnya peran lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, hingga pemerintah untuk bersinergi menjaga warisan tersebut.
Selain itu, haul Guru Tua juga menjadi momentum memperkuat persatuan.
Kehadiran berbagai elemen masyarakat tanpa sekat menunjukkan bahwa nilai-nilai yang beliau ajarkan mampu melampaui perbedaan. Ini menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi daerah seperti Sulawesi Tengah yang dikenal dengan keberagamannya.
Namun, tantangan terbesar adalah menjaga agar momentum ini tidak berhenti pada euforia sesaat. Dibutuhkan langkah konkret untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam bentuk program pendidikan, penguatan karakter generasi muda, serta pengembangan dakwah yang adaptif terhadap zaman.
Pada akhirnya, haul Guru Tua bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang menata masa depan. Sebuah pengingat bahwa warisan terbesar seorang ulama bukan hanya pada sejarahnya, melainkan pada sejauh mana ajarannya terus hidup dan memberi manfaat bagi umat.
Jika haul ini mampu menjadi ruang refleksi dan aksi, maka semangat Guru Tua akan tetap menyala, tidak hanya di Palu, tetapi di seluruh penjuru negeri.
| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||