Selasa, 29 September 2026
Iklan

8 Tahun Bencana Palu: Dari Kota yang Luluh Lantak Menuju Kota yang Terus Bangkit

8 Tahun Bencana Palu: Dari Kota yang Luluh Lantak Menuju Kota yang Terus Bangkit
Foto: Istimewa

PALU — Delapan tahun telah berlalu sejak 28 September 2018. Namun, bagi masyarakat Sulawesi Tengah, tanggal itu bukan sekadar penanda waktu. Tanggal tersebut menjadi pengingat akan sore yang mengubah Kota Palu dan sekitarnya hanya dalam hitungan menit.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,5 yang mengguncang Sulawesi Tengah memicu tsunami di Teluk Palu dan fenomena likuefaksi di sejumlah wilayah, seperti Petobo, Balaroa, dan Jono Oge. Tragedi itu meninggalkan luka mendalam, merenggut ribuan nyawa, memisahkan banyak keluarga, serta meluluhlantakkan permukiman dan infrastruktur.

Kepanikan warga yang berlari menyelamatkan diri hingga gelombang yang menerjang pesisir Teluk Palu masih menjadi kenangan yang hidup di benak para penyintas. Waktu memang terus berjalan, tetapi ingatan tentang 28 September 2018 tidak pernah benar-benar pergi.

Kini, delapan tahun kemudian, wajah Kota Palu perlahan berubah. Di atas tanah yang pernah dipenuhi puing dan duka, pembangunan terus bergerak. Jalan-jalan utama diperbaiki dan diperlebar, kawasan pesisir kembali ditata, ruang-ruang publik bermunculan, sementara berbagai proyek infrastruktur hadir sebagai bagian dari upaya membangun kota yang lebih aman dan tangguh.

Salah satu simbol perubahan itu terlihat dari pembangunan infrastruktur baru di Kota Palu, termasuk jalur jalan layang (elevated road), penataan kawasan pesisir, hingga penguatan konektivitas antarwilayah. Pembangunan tersebut bukan hanya menghadirkan wajah baru kota, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang Palu untuk bangkit dan menata kembali kehidupan setelah bencana.

Meski pembangunan terus berlangsung, Palu tidak dibangun untuk melupakan masa lalu. Setiap jalan yang kembali terbuka, setiap jembatan yang berdiri, dan setiap kawasan yang kembali dihuni menjadi pengingat bahwa kebangkitan lahir dari perjuangan masyarakat yang memilih untuk terus melangkah meski pernah kehilangan begitu banyak.

Delapan tahun setelah tragedi itu, Palu berada di titik perjalanan yang berbeda. Kota ini masih menyimpan luka, tetapi di saat yang sama terus memperlihatkan wajah baru melalui pembangunan dan semangat masyarakatnya. Dari puing-puing masa lalu, perlahan tumbuh sebuah kota yang kembali bergerak dan menatap masa depan.

Dan di momentum delapan tahun mengenang bencana 28 September 2018 ini, perjalanan tersebut menjadi bagian dari perayaan usia Kota Palu. Selamat Ulang Tahun ke-48 Kota Palu. Semoga setiap pembangunan yang berdiri di atas tanah ini bukan hanya menjadi tanda kemajuan, tetapi juga simbol ketangguhan sebuah kota yang pernah terluka dan memilih untuk bangkit.