Anwar Hafid Kecewa Berat, FORNAS 2027 Lepas dari Sulteng dan Menyisakan Tanda Tanya
PALU – Keputusan Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Pusat membatalkan Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (FORNAS) IX Tahun 2027 bukan sekadar perubahan lokasi penyelenggaraan. Bagi banyak pihak di Sulawesi Tengah, keputusan ini menjadi pukulan telak terhadap semangat daerah yang sejak awal telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah.
Kekecewaan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid pun menjadi gambaran dari perasaan masyarakat yang berharap FORNAS menjadi momentum memperkenalkan wajah baru Sulawesi Tengah kepada Indonesia. Persiapan demi persiapan telah dirancang, mulai dari konsep penyelenggaraan, penataan kawasan Hutan Kota, hingga berbagai rencana pendukung lainnya. Semua itu kini seolah kehilangan tujuan.
Yang menjadi sorotan bukan hanya keputusan pembatalannya, melainkan proses yang mengiringinya. Publik berhak bertanya, mengapa keputusan sepenting ini terkesan datang tanpa ruang dialog yang memadai dengan pemerintah daerah? Jika memang terdapat persoalan mengenai kesiapan, bukankah mekanisme evaluasi dan koordinasi semestinya menjadi langkah pertama sebelum keputusan final dijatuhkan?
Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, komunikasi adalah fondasi. Keputusan yang menyangkut nama baik daerah semestinya dibangun melalui transparansi, bukan menimbulkan kesan bahwa daerah hanya menerima hasil akhir tanpa kesempatan memberikan penjelasan.
Lebih dari itu, FORNAS bukan hanya agenda olahraga rekreasi. Ajang ini membawa harapan bagi pelaku UMKM, sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, hingga masyarakat yang menantikan dampak ekonomi dari kedatangan ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Ketika kesempatan itu hilang, yang terdampak bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat luas.
Pembatalan ini pada akhirnya menyisakan pertanyaan yang layak dijawab secara terbuka. Apa sebenarnya indikator yang membuat Sulawesi Tengah dinilai tidak layak menjadi tuan rumah? Apakah seluruh mekanisme komunikasi telah ditempuh sebelum keputusan diambil? Transparansi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan agenda nasional.
Terlepas dari keputusan yang telah diambil, Sulawesi Tengah tetap memiliki modal besar untuk menjadi daerah penyelenggara berbagai event berskala nasional. Namun, pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa komunikasi antarlembaga harus berjalan sejajar dengan komitmen daerah. Sebab, keputusan besar yang diambil tanpa penjelasan yang memadai hanya akan menyisakan kekecewaan dan ruang spekulasi di tengah masyarakat.